BERTAMASYA KE EMPAT ZAMAN MELALUI NOVEL

BERTAMASYA KE EMPAT ZAMAN MELALUI NOVEL
 

Judul : Katastrofa Cinta
Penulis : Afifah Afra
Editor : Taufan E. Prast
Penerbit : PT. Lingkar Pena Kreativa
Tahun : 2008
Tebal : 207 halaman
Harga : Rp 39.500,00

Saat membaca judul buku, sulit untuk menebak isi buku ini. Yang terlintas hanya sebuah kisah percintaan layaknya kisah-kisah lainnya. Namun saya tidak langsung mengatakan ini karya yang biasa-biasa saja. Karena judul yang diambil dari kosakata bahasa Indonesia yang jarang didengar dan menimbulkan pertanyaan besar. Sebutlah “Katastrofa Cinta”. Tentunya kita akan mencari makna dari katastrofa itu sendiri. Yang mana artinya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah malapetaka besar yang datang secara mendadak; perubahan cepat dan mendadak pada permukaan bumi, terutama bencana alam; penyelesaian (akhir) suatu drama, terutama drama klasik yang bersifat tragedi. Seberapa besar malapetaka yang diderita oleh si tokoh? Dan apa malapetaka besar itu?
 

Kisah itu diawali dengan kisah Sutoyo, yang mengais rezeki dari hasil bekerja sebagai petugas kebersihan. Digambarkan dengan sangat jelas, kehidupan Sutoyo dan keluarganya yang serba kekurangan. Alur kemudian berubah setelah dia menemukan mayat dalam tong sampah.
 

Pada bab selanjutnya diceritakan kelahiran Astuti pada tahun 1936, anak dari Mukhlis dan Raden Ajeng Gunarti. Kelahirannya ternyata menimbulkan sengketa antara kakek dan nenek dari ayah dan ibu. Kedua keluarga itu berupaya keras agar mendapatkan hak asuh terhadap Astuti. Pertikaian ini memang telah ada sejak Gunarti menikah. Dimana sang ibu, Raden Ajeng Sunarsih, tidak menngizinnya menikah dengan Mukhlis, yang bukan berasal dari golongan nigrat sejati. Tapi, tidak ada yang mengira kalau persengketaan itu merupakan awal malapetaka dan ruang gelap bagi Astuti.
 

Kematian Mukhlis, ayahnya, menjadi pintu gerbang Astuti terjerembab dalam lautan kelam tak bertepi. Ia kemudian dirawat dan dibesarkan dalam lingkungan yang kebarat-baratan. Perjalanan yang ditempuh membawanya jatuh dari pelukan satu lelaki ke lelaki lain, ternoda sejak usia sangat dini. Ditambah lagi dengan perjalanannya menjadi Gerwani yang terus diburu pada masa awal kemerdekaan.
 

Pada plot lain, muncullah Cempaka, mahasiswa kedokteran yang merupakan campuran Jawa-Cina. Wajahnya yang lebih dominan Cina itu menjadi awal malapetaka baginya. Wanita yang sempat menikmati masa kuliah di Solo harus rela menjadi korban keganasan peristiwa Mei 1998, dimana rumah dan toko-toko milik papanya dibakar massa yang mengakibatkan papanya gila, mamanya bunuh diri, kedua kakaknya tidak tahu rimbanya, sedangkan dia sendiri kehilangan kehormatan dan trauma berat sampai harus dirawat di RSJ. Kejadian ini juga yang memutarbalikkan simpatinya pada Firdaus, aktivis kampusnya yang memikat hati.
 

Pada novel ini Afra memunculkan dua plot yang sangat berjauhan yaitu pada masa pemerintahan Belanda hingga Jepang datang, serta masa berjayanya PKI di Indonesia. Dan plot lainnya adalah pada masa keruntuhan orde baru pada bulan Mei tahun 1998. Konflik melibatkan etnis Cina, mahasiswa dan kalangan terkemuka, namun tetap disampaikan dengan lugas tanpa menghakimi. Kita seakan-akan dibawa untuk larut dan merasakan penderitaan yang dirasakan si tokoh utama. Kedua plot ini kemudian disatukan dalam nuansa yang sulit ditebak, namun tetap menarik.
 

Penulis sangat ahli dalam mendeskripsikan keadaan yang terjadi di tahun 1936-1998. Hal ini menunjukkan bahwa si penulis mengetahui konflik dan keadaan nyata yang terjadi di masa itu. Buku ini menambah kepercayaan kita bahwa Afra merupakan penulis fiksi yang sangat berbakat dan cerdas. Novel yang ditulis banyak berlatarkan sejarah seperti Bulan Mati di Javasche Orange, De Winst, dan masih banyak lagi. Dibandingkan dengan novelnya sebelumnya, novel ini merupakan penyempurnaan kariernya sebagai Novelis Terpuji FLP Award. Membaca bukunya ini ibarat sedang menyelami sejarah dengan kapal yang canggih, merasakan nikmatnya sejarah bangsa dengan santai. Sehingga wajar jika novel ini digelari novel lintas zaman yang menarik dan pantas dikoleksi.
 

Kelebihan lainnya dari novel ini adalah pada penggarapan pembuka kisah. Kehadiran Sutoyo si tukang sampah sempat menimbulkan tanda tanya mengenai korelasinya dengan judul dan tema. Bahkan kita sempat berpikir bahwa Sutoyo-lah tokoh utama dalam novel ini. Akan tetapi, Afra kembali mengecohkan kita dengan alur yang sangat cantik dan menawan.
 

Penulis memang ahli merancang alur cerita sehingga pembaca terpukau akan kata-kata yang diungkapkan. Kekurangan-kekurangan kecil dalam novel ini telah tertutupi dengan berbagai adegan yang hidup. Buku ini juga telah menambah khazanah fiksi sejarah yang sangat langka di negeri kita.
Setelah membaca novel ini, akan terbesit di hati kita berbagai pertanyaan: Akankah kelak generasi penulis mampu menciptakan kreasi yang lebih baik dari karya zaman sekarang? Atau hanya akan berhenti sampai di zaman ini? Semua akan terjawab ketika zaman sudah berganti.

 





Posted in . 0 Comment »


0 Response to BERTAMASYA KE EMPAT ZAMAN MELALUI NOVEL

Leave a Reply