Sebuah karya anak bangsa yang mengagumkan!!!
06 Juni 2009Judul : The Road To The Empire
Penulis : Sinta Yudisia
Editor : Maman S. Mahayana dan Taufan E. Prast
Penerbit : PT. Lingkar Pena Kreativa
Tahun : 2008
Tebal : 586 halaman
Harga : Rp 63.000,00
Novel merupakan genre sastra yang banyak dipilih kaum perempuan untuk berekspresi, mengingat sebagian besar penulis perempuan di tanah air yang saya ketahui memilih genre ini sebagai media tulisannya. Ini adalah asumsi awal. Selasih adalah orang yang dikenal sebagai perempuan pertama penulis novel. Kalau Tak Untung, novelnya itu, di kemudian hari, menandai bermunculannya penulis-penulis perempuan Indonesia. Lambat laun, pelan tapi pasti, keberadaan mereka menyita banyak perhatian, baik secara kuantitas maupun kualitasnya.
Dalam perjalanannya kemudian bermunculan penulis-penulis perempuan yang melahirkan novel-novel baru. Baik dalam hal persahabatan, percintaan, keluarga, dll. Salah satu bukti majunya laju perkembangan penulis perempuan di tanah air adalah novel yang ditulis oleh Sinta Yudisia, The Road to The Empire. Dalam novel ini, Sinta Yudisia begitu berani mengangkat tema perang atau kekuasaan dengan bumbu romantika dalam satu bingkai latar sejarah. Suatu hal yang jarang ditemui dalam peta kepengarangan penulis perempuan Indonesia. Novel ini mengandalkan latar cerita yaitu kekaisaran Mongolia sejak Tuqluq Timur Khan hingga generasi selanjutnya, Takudar, Argun dan Buzun.
Berbicara tentang Jengiz Khan, barangkali tidak asing lagi dengan nama ini. Awal abad ke-13, Jengiz Khan mendirikan Negeri Khan Mongolia setelah berhasil menyatukan marga-marga di padang rumput utara daratan Asia. Dalam waktu puluhan tahun sejak itu, Jengiz Khan dan keturunannya terus menerus memperluas pengaruh dominasi Negara Khan dan membentuk imperium raksasa yang merentang di benua Eropa-Asia. Masa jaya Negara Khan Mongolia pada waktu itu kini telah menjadi sejarah sejalan dengan peredaran waktu.
Jengiz Khan adalah negarawan dan ahli militer brilian etnis Mongolia yang telah memberikan sumbangan menonjol bagi penyatuan marga-marga di Mongolia. Jengiz Khan pada akhir abad ke-12 memimpin bala tentara melancarkan ekspedisi ke selatan dan utara. Kisah ekspedisi Jengiz Khan dan keturunannya dalam perluasan wilayah, memang cukup terkenal. Kejadian ini kemudian diabadikan dalam karya sastra yang dituliskan dengan sangat menarik oleh Sinta.
Sinta berusaha menyatukan kata demi kata untuk mendeskripsikan kejadian sejarah pada masa kejayaan Jengiz Khan dan keturunannya. Dalam buku yang berjudul The Road To The Empire ini, Sinta berhasil membawa pembaca berbaur dalam sejarah tujuh abad silam. Dikisahkan, perjalanan Takudar, Argun, dan Buzun, dalam memperoleh kekuasaan setelah kematian Kaisar Tuqluq, penguasa Mongolia yang cukup disegani warganya. Pada awalnya, Tuqluq adalah seorang penguasa yang sangat ambisi untuk meneruskan cita-cita Jengiz Khan, segala upaya dilakukan. Dalam perjalanan kehidupannya, ketika mendekati pencapaian cita-cita, ia bertemu dengan Syaikh Jamaluddin yang kemudian memberi makna lain dalam hidupnya.
Selanjutnya ia selalu menghargai dan melindungi kaum muslimin yang berada di wilayah kekuasaannya. Kedekatannya dengan Syaikh Jamaluddin terus berlangsung sampai kemudian terwujudlah sebuah sumpah yang diteruskan kepada keturunan mereka, Takudar dan Rasyiduddin. Kedekatan kaisar dengan kaum muslimin menimbulkan desas desus yang tidak enak dan meresahkan sebagian besar pejabat. Rahasia mulia ini kemudian harus tercabik dalam persekongkolan rahasia, pembunuhan keji terhadap Kaisar dan Permaisuri Ilkhata. Inilah awal tragedi perang saudara dalam perebutan kekuasaan Mongolia.
Setelah pembunuhan terhadap Kaisar dan permaisurinya, Takudar, pangeran pertama, pewaris sah tahta kekaisaran menghilang. Argun, pangeran kedua menjadi kaisar dengan penuh konspirasi atas bantuan Albuqa Khan, orang yang menjadi kepercayaannya. Dan Buzun, pangeran ketiga, tetap mengabdi di kekaisaran, dengan memelihara rindu dan rasa keingintahuan atas hilangnya Takudar.
Mongolia kemudian dipimpin oleh Argun Khan yang melanjutkan cita-cita leluhurnya. Ia berambisi untuk menaklukkan Jerussalem. Sayangnya, dalam gerakan penaklukan dan usaha perluasan wilayah kekuasaan, selalu rakyat yang menjadi korban. Termasuk di dalamnya, masyarakat Muslim yang sejak Khalifah Rasyidin telah menyatu dengan bangsa Mongolia sebaga warga minoritas. Kejadian ini menimbulkan kegalauan di hati kaum muslimin.
Dalam buku ini, penulis mampu membumikan kisahnya dengan aliran bahasa yang ringan, enak dan ritmis. Sehingga lebih dari 500 halaman tak begitu terasa tebalnya. Ia begitu pandai menghadirkan Mongolia seolah nyata di hadapan kita. Sehingga, tak salah mengapa buku ini mendapat Award sebagai buku fiksi dewasa terbaik di Islamic Book Fair 2009 baru-baru ini. Di dalamnya, terdapat kisah-kisah heroisme yang berbalut romantika percintaan. Juga konspirasi politik yang bertabur dalam novel ini. Buku ini sangat cocok dibaca untuk menambah wawasan yang lebih luas mengenai perkembangan dunia Islam di Asia. Kekurangan-kekurangan kecil yang ada misalnya kesalahan editing tertutupi dengan alur dan plot yang mengagumkan.
Buku ini bagus dibaca oleh siapa pun yang menyenangi karya sastra yg bersumber dari sejarah. Bahkan setidaknya dapat menambah wawasan lebih jauh tentang sejarah Mongolia yang cukup terkenal. Oleh sebab itu, wajar jika saya menganggap buku ini layak sebagai salah satu buku yang harus dijadikan koleksi Anda.