Sebuah karya anak bangsa yang mengagumkan!!!

Judul : The Road To The Empire


Penulis : Sinta Yudisia


Editor : Maman S. Mahayana dan Taufan E. Prast


Penerbit : PT. Lingkar Pena Kreativa


Tahun : 2008


Tebal : 586 halaman


Harga : Rp 63.000,00




Novel merupakan genre sastra yang banyak dipilih kaum perempuan untuk berekspresi, mengingat sebagian besar penulis perempuan di tanah air yang saya ketahui memilih genre ini sebagai media tulisannya. Ini adalah asumsi awal. Selasih adalah orang yang dikenal sebagai perempuan pertama penulis novel. Kalau Tak Untung, novelnya itu, di kemudian hari, menandai bermunculannya penulis-penulis perempuan Indonesia. Lambat laun, pelan tapi pasti, keberadaan mereka menyita banyak perhatian, baik secara kuantitas maupun kualitasnya.




Dalam perjalanannya kemudian bermunculan penulis-penulis perempuan yang melahirkan novel-novel baru. Baik dalam hal persahabatan, percintaan, keluarga, dll. Salah satu bukti majunya laju perkembangan penulis perempuan di tanah air adalah novel yang ditulis oleh Sinta Yudisia, The Road to The Empire. Dalam novel ini, Sinta Yudisia begitu berani mengangkat tema perang atau kekuasaan dengan bumbu romantika dalam satu bingkai latar sejarah. Suatu hal yang jarang ditemui dalam peta kepengarangan penulis perempuan Indonesia. Novel ini mengandalkan latar cerita yaitu kekaisaran Mongolia sejak Tuqluq Timur Khan hingga generasi selanjutnya, Takudar, Argun dan Buzun.


Berbicara tentang Jengiz Khan, barangkali tidak asing lagi dengan nama ini. Awal abad ke-13, Jengiz Khan mendirikan Negeri Khan Mongolia setelah berhasil menyatukan marga-marga di padang rumput utara daratan Asia. Dalam waktu puluhan tahun sejak itu, Jengiz Khan dan keturunannya terus menerus memperluas pengaruh dominasi Negara Khan dan membentuk imperium raksasa yang merentang di benua Eropa-Asia. Masa jaya Negara Khan Mongolia pada waktu itu kini telah menjadi sejarah sejalan dengan peredaran waktu.


Jengiz Khan adalah negarawan dan ahli militer brilian etnis Mongolia yang telah memberikan sumbangan menonjol bagi penyatuan marga-marga di Mongolia. Jengiz Khan pada akhir abad ke-12 memimpin bala tentara melancarkan ekspedisi ke selatan dan utara. Kisah ekspedisi Jengiz Khan dan keturunannya dalam perluasan wilayah, memang cukup terkenal. Kejadian ini kemudian diabadikan dalam karya sastra yang dituliskan dengan sangat menarik oleh Sinta.


Sinta berusaha menyatukan kata demi kata untuk mendeskripsikan kejadian sejarah pada masa kejayaan Jengiz Khan dan keturunannya. Dalam buku yang berjudul The Road To The Empire ini, Sinta berhasil membawa pembaca berbaur dalam sejarah tujuh abad silam. Dikisahkan, perjalanan Takudar, Argun, dan Buzun, dalam memperoleh kekuasaan setelah kematian Kaisar Tuqluq, penguasa Mongolia yang cukup disegani warganya. Pada awalnya, Tuqluq adalah seorang penguasa yang sangat ambisi untuk meneruskan cita-cita Jengiz Khan, segala upaya dilakukan. Dalam perjalanan kehidupannya, ketika mendekati pencapaian cita-cita, ia bertemu dengan Syaikh Jamaluddin yang kemudian memberi makna lain dalam hidupnya.


Selanjutnya ia selalu menghargai dan melindungi kaum muslimin yang berada di wilayah kekuasaannya. Kedekatannya dengan Syaikh Jamaluddin terus berlangsung sampai kemudian terwujudlah sebuah sumpah yang diteruskan kepada keturunan mereka, Takudar dan Rasyiduddin. Kedekatan kaisar dengan kaum muslimin menimbulkan desas desus yang tidak enak dan meresahkan sebagian besar pejabat. Rahasia mulia ini kemudian harus tercabik dalam persekongkolan rahasia, pembunuhan keji terhadap Kaisar dan Permaisuri Ilkhata. Inilah awal tragedi perang saudara dalam perebutan kekuasaan Mongolia.


Setelah pembunuhan terhadap Kaisar dan permaisurinya, Takudar, pangeran pertama, pewaris sah tahta kekaisaran menghilang. Argun, pangeran kedua menjadi kaisar dengan penuh konspirasi atas bantuan Albuqa Khan, orang yang menjadi kepercayaannya. Dan Buzun, pangeran ketiga, tetap mengabdi di kekaisaran, dengan memelihara rindu dan rasa keingintahuan atas hilangnya Takudar.


Mongolia kemudian dipimpin oleh Argun Khan yang melanjutkan cita-cita leluhurnya. Ia berambisi untuk menaklukkan Jerussalem. Sayangnya, dalam gerakan penaklukan dan usaha perluasan wilayah kekuasaan, selalu rakyat yang menjadi korban. Termasuk di dalamnya, masyarakat Muslim yang sejak Khalifah Rasyidin telah menyatu dengan bangsa Mongolia sebaga warga minoritas. Kejadian ini menimbulkan kegalauan di hati kaum muslimin.


Dalam buku ini, penulis mampu membumikan kisahnya dengan aliran bahasa yang ringan, enak dan ritmis. Sehingga lebih dari 500 halaman tak begitu terasa tebalnya. Ia begitu pandai menghadirkan Mongolia seolah nyata di hadapan kita. Sehingga, tak salah mengapa buku ini mendapat Award sebagai buku fiksi dewasa terbaik di Islamic Book Fair 2009 baru-baru ini. Di dalamnya, terdapat kisah-kisah heroisme yang berbalut romantika percintaan. Juga konspirasi politik yang bertabur dalam novel ini. Buku ini sangat cocok dibaca untuk menambah wawasan yang lebih luas mengenai perkembangan dunia Islam di Asia. Kekurangan-kekurangan kecil yang ada misalnya kesalahan editing tertutupi dengan alur dan plot yang mengagumkan.


Buku ini bagus dibaca oleh siapa pun yang menyenangi karya sastra yg bersumber dari sejarah. Bahkan setidaknya dapat menambah wawasan lebih jauh tentang sejarah Mongolia yang cukup terkenal. Oleh sebab itu, wajar jika saya menganggap buku ini layak sebagai salah satu buku yang harus dijadikan koleksi Anda.



BERTAMASYA KE EMPAT ZAMAN MELALUI NOVEL

BERTAMASYA KE EMPAT ZAMAN MELALUI NOVEL

 


Judul : Katastrofa Cinta

Penulis : Afifah Afra

Editor : Taufan E. Prast

Penerbit : PT. Lingkar Pena Kreativa

Tahun : 2008

Tebal : 207 halaman

Harga : Rp 39.500,00



Saat membaca judul buku, sulit untuk menebak isi buku ini. Yang terlintas hanya sebuah kisah percintaan layaknya kisah-kisah lainnya. Namun saya tidak langsung mengatakan ini karya yang biasa-biasa saja. Karena judul yang diambil dari kosakata bahasa Indonesia yang jarang didengar dan menimbulkan pertanyaan besar. Sebutlah “Katastrofa Cinta”. Tentunya kita akan mencari makna dari katastrofa itu sendiri. Yang mana artinya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah malapetaka besar yang datang secara mendadak; perubahan cepat dan mendadak pada permukaan bumi, terutama bencana alam; penyelesaian (akhir) suatu drama, terutama drama klasik yang bersifat tragedi. Seberapa besar malapetaka yang diderita oleh si tokoh? Dan apa malapetaka besar itu?

 


Kisah itu diawali dengan kisah Sutoyo, yang mengais rezeki dari hasil bekerja sebagai petugas kebersihan. Digambarkan dengan sangat jelas, kehidupan Sutoyo dan keluarganya yang serba kekurangan. Alur kemudian berubah setelah dia menemukan mayat dalam tong sampah.

 


Pada bab selanjutnya diceritakan kelahiran Astuti pada tahun 1936, anak dari Mukhlis dan Raden Ajeng Gunarti. Kelahirannya ternyata menimbulkan sengketa antara kakek dan nenek dari ayah dan ibu. Kedua keluarga itu berupaya keras agar mendapatkan hak asuh terhadap Astuti. Pertikaian ini memang telah ada sejak Gunarti menikah. Dimana sang ibu, Raden Ajeng Sunarsih, tidak menngizinnya menikah dengan Mukhlis, yang bukan berasal dari golongan nigrat sejati. Tapi, tidak ada yang mengira kalau persengketaan itu merupakan awal malapetaka dan ruang gelap bagi Astuti.

 


Kematian Mukhlis, ayahnya, menjadi pintu gerbang Astuti terjerembab dalam lautan kelam tak bertepi. Ia kemudian dirawat dan dibesarkan dalam lingkungan yang kebarat-baratan. Perjalanan yang ditempuh membawanya jatuh dari pelukan satu lelaki ke lelaki lain, ternoda sejak usia sangat dini. Ditambah lagi dengan perjalanannya menjadi Gerwani yang terus diburu pada masa awal kemerdekaan.

 


Pada plot lain, muncullah Cempaka, mahasiswa kedokteran yang merupakan campuran Jawa-Cina. Wajahnya yang lebih dominan Cina itu menjadi awal malapetaka baginya. Wanita yang sempat menikmati masa kuliah di Solo harus rela menjadi korban keganasan peristiwa Mei 1998, dimana rumah dan toko-toko milik papanya dibakar massa yang mengakibatkan papanya gila, mamanya bunuh diri, kedua kakaknya tidak tahu rimbanya, sedangkan dia sendiri kehilangan kehormatan dan trauma berat sampai harus dirawat di RSJ. Kejadian ini juga yang memutarbalikkan simpatinya pada Firdaus, aktivis kampusnya yang memikat hati.

 


Pada novel ini Afra memunculkan dua plot yang sangat berjauhan yaitu pada masa pemerintahan Belanda hingga Jepang datang, serta masa berjayanya PKI di Indonesia. Dan plot lainnya adalah pada masa keruntuhan orde baru pada bulan Mei tahun 1998. Konflik melibatkan etnis Cina, mahasiswa dan kalangan terkemuka, namun tetap disampaikan dengan lugas tanpa menghakimi. Kita seakan-akan dibawa untuk larut dan merasakan penderitaan yang dirasakan si tokoh utama. Kedua plot ini kemudian disatukan dalam nuansa yang sulit ditebak, namun tetap menarik.

 


Penulis sangat ahli dalam mendeskripsikan keadaan yang terjadi di tahun 1936-1998. Hal ini menunjukkan bahwa si penulis mengetahui konflik dan keadaan nyata yang terjadi di masa itu. Buku ini menambah kepercayaan kita bahwa Afra merupakan penulis fiksi yang sangat berbakat dan cerdas. Novel yang ditulis banyak berlatarkan sejarah seperti Bulan Mati di Javasche Orange, De Winst, dan masih banyak lagi. Dibandingkan dengan novelnya sebelumnya, novel ini merupakan penyempurnaan kariernya sebagai Novelis Terpuji FLP Award. Membaca bukunya ini ibarat sedang menyelami sejarah dengan kapal yang canggih, merasakan nikmatnya sejarah bangsa dengan santai. Sehingga wajar jika novel ini digelari novel lintas zaman yang menarik dan pantas dikoleksi.

 


Kelebihan lainnya dari novel ini adalah pada penggarapan pembuka kisah. Kehadiran Sutoyo si tukang sampah sempat menimbulkan tanda tanya mengenai korelasinya dengan judul dan tema. Bahkan kita sempat berpikir bahwa Sutoyo-lah tokoh utama dalam novel ini. Akan tetapi, Afra kembali mengecohkan kita dengan alur yang sangat cantik dan menawan.

 


Penulis memang ahli merancang alur cerita sehingga pembaca terpukau akan kata-kata yang diungkapkan. Kekurangan-kekurangan kecil dalam novel ini telah tertutupi dengan berbagai adegan yang hidup. Buku ini juga telah menambah khazanah fiksi sejarah yang sangat langka di negeri kita.

Setelah membaca novel ini, akan terbesit di hati kita berbagai pertanyaan: Akankah kelak generasi penulis mampu menciptakan kreasi yang lebih baik dari karya zaman sekarang? Atau hanya akan berhenti sampai di zaman ini? Semua akan terjawab ketika zaman sudah berganti.



 

Hai Dunia

Ini adalah postingan pertamaku saat bergabung bersama CyberMQ Blog.Kedepan InsyaAllah saya akan coba terus menulis di blog tercinta saya ini tentang sesuatu yang bermanfaat bagi dunia. Semoga tulisan awal ini menjadi langkah penting dalam memulai kreasi saya didunia maya khususnya di blog saya ini. Kunjungi kembali blog saya beberapa waktu kedepan untuk melihat tulisan saya.